Ingin Makan Teratur dengan Menu Sesuai Selera? Kulina Coba Tawarkan Solusinya

Masalah utama dari bisnis kuliner bukan hanya bagaimana menyediakan makanan yang berkualitas dan tempat yang bagus yang membutuhkan modal besar. Melainkan mencari orang-orang yang akan menikmati makanan tersebut.
Berkaca dari kondisi tersebut, Andy Fajar Handika melalui aplikasi Kulina, sebuah marketplace yang menghubungkan catering atau juru masak rumahan (dapur mitra) langsung dengan para pembeli.
“Kami ingin membuat proses dan pengelolaan pemesanan, pembayaran dan pengantaran berjalan dengan mudah. Sehingga dapur mitra hanya fokus pada hal yang benar-benar mereka kuasai, yaitu memasak makanan” Ungkap Andy kepada Tech in Asia.

Kulina menggunakan sistem pre-order. Artinya pengguna harus memesan makanan sehari sebelumnya dengan minimal pemesanan tiga hari ke depan. Hal ini memungkinkan pengguna untuk memesan makanan sekaligus untuk beberapa hari ke depan seperti layanan catering pada umumnya.
Kemudian untuk pembayaran selain menggunakan metode pembayaran melalui kartu kredit dan transfer bank. Kulina juga menerapkan sistem Wallet yang bisa diisi oleh pengguna terlebih dahulu, dan kemudian digunakan untuk bertransaksi.
Menariknya, Kulina juga menerapkan sistem kode promo pada Wallet seperti apa yang pernah dilakukan oleh GO-JEK. Jadi apabila kamu mendapat kode promo tertentu bisa disimpan ke dalam Wallet.
Setiap pengguna juga mempunyai kode unik personal yang bisa dibagikan kepada teman-temannya melalui media sosial untuk mendapatkan saldo Wallet senilai Rp25,000. Pemilik kode juga akan mendapatkan saldo tambahan dengan nominal yang sama apabila ada kode promo tersebut digunakan.
Hal menarik lain yang saya temukan di aplikasi Kulina adalah layanan konsumen yang selalu sedia menjawab berbagai pertanyaan kamu seputar layanan ini.
Sejauh ini, Andy mengklaim telah menerima 300 lebih pendaftaran yang berminat sebagai sebagai dapur mitra. Akan tetapi mengingat terdapat proses seleksi dan kurasi, belum banyak menu makanan yang tersedia di aplikasi Kulina.
Disinggung mengenai model bisnis. Andy mengungkapkan bahwa Kulina akan mengambil komisi sebesar 15 persen dari setiap pesanan makanan ke dapur-dapur yang telah bekerja sama dengan Kulina.
Cerita di balik Kulina
Insanity is doing the same thing over and over again, but expecting different results
Kutipan dari Albert Einstein yang menjadi perumpamaan perjalanan Andy mendirikan bisnis kuliner dari offline ke online.
Ia bisa dibilang seorang serial entrepreneur di bisnis kuliner. Andy sempat mendirikan restoran fisik yang bernama FoodFezt pada tahun 2007 di Yogyakarta. Kemudian beralih ke binis online dengan mendirikan Makan Diantar, layanan delivery makanan di kota yang sama pada pertengahan tahun 2014 lalu. Dan tahun ini Andy fokus mengembangkan Kulina di Jakarta.
Mendirikan bisnis kuliner seperti restoran memerlukan biaya yang besar untuk menyewa dan membangun restoran. Belum lagi urusan pengelolaan dapur dan melakukan marketing untuk menarik pengunjung.
Problem inilah yang ingin dipecahkan Andy melalui Kulina. “Jadi siapapun yang mempunyai dapur dan mempunyai kemampuan memasak makanan lezat bisa memulai bisnisnya dengan di Kulina,” tutur Andy kepada Tech in Asia.
Disamping itu dengan sistem pre-order. Para dapur mitra menjadi lebih efisien dalam mengelola inventory mereka. Karena mereka hanya akan memasak sesuai pesanan.
Persaingan bisnis kuliner yang ketat
Startup on-demand delivery makanan bisa dibilang kian menjamur di tanah air. Beberapa startup yang menjadi kompetitor Kulina secara langsung maupun tidak adalah layanan catering online seperti Berry Kitchen dan Black Garlic. Begitu juga layanan delivery makanan seperti GO-FOOD, Klik-Eat, dan FoodPanda.
Bagaimanapun Andy mengungkapkan bahwa ia menargetkan target pengguna yang berbeda dengan layanan on-demand delivery makanan yang tersedia di pasaran sekarang.
Andy mengungkapkan bahwa dengan sistem pre-order Kulina, mereka (para pengguna) punya pilihan untuk bisa merencanakan dengan lebih baik makanan apa yang akan mereka konsumsi hingga beberapa hari ke depan.
Sistem ini mungkin bisa menjadi solusi bagi orang-orang yang ingin makan teratur. Akan tetapi bagi kamu yang ingin layanan on-demand delivery makanan di waktu yang sama, rasanya Kulina bukanlah solusi yang cocok bagi kamu.
(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)
sumber:

