Blogger templates

Rabu, 25 Mei 2016

5 Cara Video Game Memanfaatkan Native Ad

Native advertising kini telah merambah ke banyak aspek dalam kehidupan kita, baik dari artikel atau tulisan hingga konten audio visual. Bahkan film layar lebar juga telah menggunakan native ad. Tidak ketinggalan, video game juga menjadi ranah para brand besar untuk memperluas jangkauan branding mereka melalui native ad. Peluang inilah yang sangat berpotensi besar apabila dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para pembuat game.


Selain dapat menambah kerealistisan sebuah video game, adanya upaya branding juga dapat menjadi sumber pendapatan pembuat video game selain melalui in-app purchase dan penjualan game itu sendiri.


Seperti apakah contoh dari penggunaan native ad dalam video game? Kali ini saya akan mencoba untuk memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana native ad dapat bekerja dalam industri video game.


Menggunakan brand sebagai penguat realita


Native Ads ingame|Gran Turismo Car Selection

Sumber gambar: Gran Turismo Wiki



Apa jadinya sebuah game sepak bola tanpa papan iklan di pinggir lapangan, atau game balapan tanpa brand mobil favorit? Ya, inilah alasan terkuat dari pengembang video game untuk menggunakan branding di game mereka. Karena selain dapat menambah kerealistisan dalam sebuah video game, branding dalam game juga adalah upaya promosi yang dapat diukur distribusinya—yaitu lewat game yang terjual.


Native Ads ingame|Ad board game sepakbola

Sumber gambar: blog Wirebot



Mode native ad ini dapat berkembang lebih lanjut dalam sebuah video game sepak bola yang terhubung ke internet. Sebagai contoh. dengan ad board yang dinamis, pembuat game dapat mengganti iklan pada ad board dengan iklan apapun yang mereka inginkan melalui update. Ini seperti sebuah template dan tempat beriklan permanen yang ada di dalam video game.


Walaupun dapat meningkatkan kerealistisan sebuah game, apabila diterapkan pada aspek tertentu upaya branding juga dapat membuat game menjadi kurang realistis. Sebagai contoh branding dalam bentuk mobil di game Gran Turismo.


Fisik mobil terasa seperti beton padat. Tabrakan sekencang apapun, bodi mobil tetap utuh. Ini dilakukan karena Polyphony Digital selaku developer tidak ingin melanggar hak cipta desain yang dimiliki oleh para pemegang lisensi mobil.


Cross-promotion dalam video game 



Siapa bilang video game tidak dapat mempromosikan produk secara mutual? Kolaborasi antara Call of Duty: Advanced Warfare dengan Mountain Dew, Mario Kart 8 dengan Mercedes Benz, serta game Tahu Bulat dengan Ghosty Comic adalah beberapa contoh kolaborasi mutual antara dua brand untuk saling mempromosikan diri mereka. 



Call of Duty: Advanced Warfare dengan Mountain Dew memberikan pemain in-game item dan experience tambahan dari kode yang ada pada kemasan kedua produk tersebut. Nintendo juga mengumumkan kerja sama mereka dengan Mercedes-Benz tepat pada saat ulang tahun seri Mario Kart yang ke-22.


Nintendo menghadirkan mobil Mercedes-Benz ke dalam game—yang menurut saya sedikit aneh. Sayangnya, kampanye ini hanya berlaku untuk pelanggan mereka yang berlokasi di Amerika Serikat.


Native Ads ingame|Tahu Bulat ada Sultan

Sumber gambar: Facebook



Di ranah video game dalam negeri, ternyata upaya cross promotion juga dilakukan oleh developer asal Bandung, Own Games, dengan Ghosty Comic dalam game mereka yang berjudul Tahu Bulat. Jangan kaget ketika sedang bermain game ini kamu akan bertemu dengan sang Sultan.


Ya, karakter unik dari Ghosty Comic ini akan membeli tahu bulatmu dengan harga yang berlipat ganda! Ghosty Comic juga sempat mempromosikan game ini pada page Facebook resmi mereka. Terbayang kan bagaimana tingkah polah sang Sultan bila sedang berbelanja?


Membuat karakter dari brand



Kehabisan ide untuk membuat seorang karakter video game? Jangan khawatir, karena kamu juga dapat membuat seorang karakter game yang terinspirasi dari brand yang ingin kamu promosikan. Tengoklah kerjasama apik antara Pepsi dan developer KID dalam Pepsiman serta 7UP dan Virgin Interactive dalam Cool Spot.


Kedua karakter memang dirancang khusus untuk menjadi karakter video game yang sekaligus mempromosikan brand yang mengusungnya. Pepsiman mendapatkan respons yang sangat baik di kalangan gamer dengan genre runner yang dihadirkannya. Sementara Cool Spot juga mendapat tempat spesial di hati para gamer SEGA Genesis lewat genre platformer yang diusungnya.


Kedua game tersebut berhasil mematahkan argumen bahwa kehadiran unsur iklan dalam video game sangat dibenci—saya berbicara tentang banner dan popup ad. Sebaliknya, kedua karakter tersebut cukup diterima dan upaya branding dari Pepsi dan 7UP terbilang berhasil—di kalangan gamer—saat itu.


Promosi lewat in-game item


Native Ads ingame|SS The Sims Diesel Stuff Pack

Sumber gambar: GRYOnline



Native ad ini paling banyak menjadi pilihan karena dirasa paling relevan dengan judul game itu sendiri. Beberapa game yang menerapkan branding pada in-game item mereka antara lain; Worms 3D dengan minuman Redbull, yang memberikan kemampuan untuk melompat tinggi serta langkah yang tidak terbatas; The Sims dengan Diesel Stuff Pack, yang memberikan karaktermu sejumlah apparel unik dari Diesel; dan Alan Wakeyang menggunakan baterai “khusus” dari Energizer untuk melawan makhluk jahat dari mimpi buruknya. 


In-game item dapat menjadi wahana promosi yang cukup baik, terutama apabila item tersebut memiliki nilai tambah tersendiri, yang membuat pemain tidak ragu untuk menggunakannya atau mengoleksinya. Tampilnya brand sungguhan di dalam game memberikan pengalaman tersendiri yang membuat pengalaman gaming jadi lebih otentik.


Menjadikan brand sebagai fitur tambahan dalam game



Memanfaatkan fitur tertentu pada komputer atau laptop dengan mengintegrasikannya ke dalam video game? Bisa! Dengan AlienFX dari AlienWare kamu dapat mengatur warna laptop dan menyesuaikannya dengan in-game event yang terjadi.


Kamu ingin supaya LED di keyboard berdansa mengikuti event yang ada di dalam game kamu? AlienFX dapat mengubah Hotline Miami menjadi sebuah game yang tidak hanya penuh warna di layar, tetapi juga akan membuat LED pada keyboard menari penuh warna.


Walaupun Razer Chroma juga dapat melakukan hal yang sama, akan tetapi dukungan langsung dari game secara langsung menegaskan posisi branding AlienFX dari AlienWare sebagai produsen hardware yang mampu memperkaya pengalaman gaming.


AMD dan NVIDIA juga melakukan strategi branding ini, yang mempromosikan fitur dari masing-masing produk pada tiap game yang mereka promosikan. NVIDIA gencar melalui GeForce Experience mereka, sementara AMD berkampanye dengan tajuk Gaming Evolved.



Terbukti apapun medianya, native ad selalu berhasil untuk menyampaikan pesannya lewat konten yang tersaji. Selama masih dalam konteks dan peruntukannya, native ad dapat menjadikan sebuah konten menjadi lebih otentik.


Native ad tidak hanya berlaku pada video game saja, tengoklah beberapa media lain yang menerapkan native ad, seperti film AADC 2, Netflix dengan Cocainenomics, juga Baidu yang menyajikan insight tentang pengguna mobile apps di Indonesia. Ini membuktikan kepercayaan para brand tersebut untuk memanfaatkan native ad sebagai cara mereka untuk mempromosikan brand.


(Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah; sumber gambar: EQUITYARCADE)


The post 5 Cara Video Game Memanfaatkan Native Ad appeared first on Tech in Asia Indonesia.





sumber:

0 komentar:

Posting Komentar