Game merupakan salah satu wujud media masa kini yang dapat digunakan tidak hanya sebagai sarana rekreasi, namun juga bisa sebagai curahan hati developernya. Hal inilah yang dilakukan oleh Rasheed Abueideh dari Palestina. Melalui game singkat berjudul Liyla and The Shadows of War, ia ingin menyampaikan pengalaman pahit yang disaksikannya karena konflik di Palestina.
Liyla and The Shadows of War adalah sebuah game platformer singkat di mana kamu akan berperan sebagai seorang ayah yang berusaha menemukan kembali keluarga kecilnya. Di tengah gempuran roket yang sewaktu-waktu bisa menerjangnya, sang ayah akhirnya bisa menemukan istri dan anak perempuannya. Mereka kembali harus berlari mencari tempat aman yang bisa menghindarkan mereka dari kematian di Gaza.

Sebagai sebuah game yang mengangkat kisah nyata, Liyla and The Shadows of War cukup berhasil membuat saya terenyuh dengan pesan yang ingin disampaikannya. Ketakutan, kesedihan, kemarahan dan empati dari seorang Rasheed tersampaikan dengan sangat baik melalui visual ala LIMBO, alunan musik syahdu, serta usaha sang tokoh utama menerjang beragam rintangan demi keluarga tercintanya.
Liyla and The Shadows of War sempat ramai diperbincangkan di jagat maya karena penolakan Apple untuk menampilkannya di App Store. Apple berdalih bahwa Liyla and The Shadows of War bukanlah sebuah game. Namun berkat desakan dari berbagai pihak, Apple akhirnya merevisi keputusan mereka.

Memainkan Liyla and The Shadows of War sedikit banyak membuat kita tersadar kembali akan konflik yang hingga saat ini masih juga belum menemui titik penyelesaiannya. Di sisi lain, game ini membuktikan bahwa media populer seperti video game bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan lagi.
Game telah bertransformasi menjadi salah satu media penyampai pesan yang kuat dan bisa mempengaruhi banyak orang. Apakah kamu setuju?
(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)
The post Liyla and The Shadows of War – Menanamkan Empati Melalui Media Game appeared first on Tech in Asia Indonesia.
sumber:

0 komentar:
Posting Komentar