Blogger templates

Rabu, 30 Maret 2016

ForexLive Asia FX news wrap: NZ leads, Nikkei lags

Forex news for Asia trading Wednesday 30 March 2016

It was Yellen hangover day in Asia, with markets shocked, shocked I tell you, that Ms. Yellen was dovish. Who could possibly have seen THAT coming? (I’m trusting my sarcasm is coming across OK in pixel?)





sumber:

Xiaomi Luncurkan Alat Penanak Nasi Pintar yang Bisa Dikontrol Melalui Smartphone

Beberapa waktu lalu kamu mungkin sudah sempat membaca sepeda pintar dan TV super tipis dari Xiaomi. Kali ini perusahaan teknologi asal Cina tersebut mengumumkan bahwa mereka telah memproduksi alat penanak nasi pintar, yang dibuat untuk melengkapi produk rumah pintar dari Xiaomi.


Sebelumnya, Xiaomi sempat meluncurkan alat pembersih udara, pembersih air, monitor tekanan darah, dan smart segway. Semuanya adalah produk-produk selain smartphone yang diproduksi Xiaomi. Akan tetapi alat penanak nasi merupakan alat yang sering dipakai penduduk-penduduk di Asia, yang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok.


Alat pintar benama lengkap “MIJIA Induction Heating Pressure Rice Cooker” ini bahkan bisa dikontrol menggunakan sebuah aplikasi smartphone. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna untuk mengatur dan mengubah kelembutan nasi sesuai keinginan.


Seperti produk-produk lain, Xiaomi tidak memproduksi langsung alat penanak nasi pintar ini. Melainkan melalui salah satu portofolio Xiaomi, yaitu Chun Min. Sehingga tidak heran apabila Xiaomi tidak menggunakan awalan “Mi” untuk menamai alat ini.


Xiaomis-smart-rice-cooker-launched-photo-02-800x500


“Pengguna bisa memindai bungkus beras yang akan mereka gunakan untuk mengetahui jenis, merek, dan asal beras, kemudian alat penanak nasi ini akan otomatis mengatur tingkat panas agar sesuai dengan beras tersebut. Saat ini terdapat sekitar 200 merek beras yang telah didukung, dan akan terus bertambah ke depannya,” ungkap Xiaomi, dikutip dari TechCrunch.


Selain bisa digunakan untuk menanak nasi, alat ini ternyata bisa juga digunakan untuk membuat kue. Kemampuan ini merupakan inspirasi dari alat-alat penanak nasi canggih buatan Jepang. Kombinasi kontrol tekanan, pemanas induksi, dan lapisan besi akan menghasilkan rasa nasi dan kue yang unik.


Bagaimanapun alat ini baru tersedia di Cina dan belum ada informasi kapan dipasarkan secara global. Sedangkan harganya bisa dibilang cukup mahal untuk sebuah alat penanak nasi, yaitu US$150 (sekitar Rp2 juta). Akan tetapi angka tersebut masih lebih murah apabila dibandingkan dengan alat penanak nasi canggih Jepang yang rata-rata dijual dua kali lipat lebih mahal.


Baca juga: Xiaomi Luncurkan TV Layar Lengkung yang Lebih Tipis dari iPhone 6s


(Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)


The post Xiaomi Luncurkan Alat Penanak Nasi Pintar yang Bisa Dikontrol Melalui Smartphone appeared first on Tech in Asia Indonesia.





sumber:

Air NZ looking to sell its stake in Aussie airline?

AUD/NZD flows related to this ….

– Air New Zealand has signalled the sale of its near-26 per cent stake in Virgin Australia

– Air New Zealand said on Wednesday it was reviewing its $350 million stake in the airline, including a possible sale





sumber:

New Zealand Building Permits Climb 10.8% In February



The total number of building permits issued in New Zealand was up 10.8 percent on year in February, Statistics New Zealand said on Wednesday – coming in at 2,379.


That follows the 8.2 percent contraction in January.


The actual value of building work consented in February was NZ$1.4 billion.


Residential work was up NZ$308 million (40 percent on year) to NZ$1.1 billion, while non-residential work was down NZ$99 million (21 percent) to NZ$372 million.



Published: 2016-03-29 22:46:00 UTC+00










sumber:

Westpac / MNI China Consumer Sentiment (March) 118.1 (prior 111.3)

Westpac / MNI China Consumer Sentiment up 6.1% on the month

– To its highest since September of last year





sumber:

Ethereum Siap Menantang Bitcoin dalam Persaingan Menjadi Mata Uang Virtual Terbesar

Sejak diperkenalkan pada tahun 2009, mata uang virtual Bitcoin telah banyak menarik minat para pengguna internet, termasuk di Indonesia. Banyak pihak yang coba menyaingi popularitas Bitcoin, namun belum ada yang berhasil melakukannya.


Hingga pada tahun 2014, Vitalik Buterin, yang waktu itu masih berusia 20 tahun, berinisiatif membuat sebuah platform bernama Ethereum. Platform tersebut pun mempunyai mata uang virtual seperti Bitcoin, yang diberi nama Ether. Dengan bantuan beberapa rekannya, ia berhasil meraih dana sebesar US$18 juta (sekitar Rp 241 miliar) secara crowdfunding untuk mendanai pengembangan platform tersebut.


Saat ini, nilai seluruh Ether di dunia sudah mencapai angka US$905 juta (sekitar Rp12 triliun). Jauh mengungguli mata uang virtual lainnya, seperti Ripple (U$261 juta / sekitar Rp3,5 triliun) dan Litecoin (US$147 juta / sekitar Rp1,9 triliun). Ether hanya kalah dari Bitcoin yang nilai totalnya saat ini mencapai US$6,5 miliar (sekitar Rp87 triliun).


Joseph Bonneau, seorang peneliti mata uang virtual di Universitas Stanford, mengatakan kalau Ether adalah satu-satunya mata uang virtual yang menarik minatnya selain Bitcoin.


“Bitcoin saat ini masih tetap yang utama, namun Ethereum jelas merupakan yang kedua setelah Bitcoin,” ujar Joseph.


Mengandalkan fitur Smart Contract


Sistem Block Chain yang digunakan Bitcoin dan Ethereum

Sistem Block Chain yang digunakan Bitcoin dan Ethereum



Bitcoin dan Ethereum sebenarnya sama-sama menggunakan sistem bernama Block Chain. Dalam sistem Block Chain ini, pencatatan data dan transaksi dilakukan di banyak server yang saling terhubung satu sama lain. Dengan begitu, bila ada satu server yang mengalami kerusakan, data tetap bisa diakses di server-server yang lain.


Hal yang membedakan Ethereum dari Bitcoin adalah penerapan Smart Contract, yang memungkinkan kamu untuk memprogram transaksi, sebelum kamu melakukannya. Contohnya, kamu bisa membuat program arisan yang akan secara otomatis memindahkan Ether milik setiap peserta ke akun pemenang setiap bulannya.


Fitur Smart Contract inilah yang menurut Joseph Lubin, Co-Founder Ethereum, tidak diakomodasi oleh Bitcoin. “Bitcoin telah menampilkan sebuah visi besar, dan Ethereum hadir untuk memperjelas bagaimana cara mewujudkan visi tersebut,” ujar Lubin.


Penerapan dari Smart Contract ini dikumpulkan dalam situs Dapps. Di sana, kamu bisa melihat berbagai proyek yang dibuat oleh developer dengan platform Ethereum, seperti pembuatan sistem crowdfunding, sistem peminjaman uang, dan juga sistem perjudian.


Ethereum 2


Sejauh ini, platform Ethereum sudah didukung oleh 6.400 server yang saling terhubung. Angka ini tidak berbeda jauh dengan server pendukung Bitcoin yang jumlahnya ada 7.400.


Untuk bisa mendapatkan Ether, kamu bisa menukarkan uang dalam bentuk Dolar atau Pound lewat penjual mata uang virtual seperti Kraken dan Bittylicious.


Dilirik oleh perusahaan besar


Pengembangan Etherium saat ini memang masih dalam tahap awal, ditandai dengan versi lengkap pertama mereka yang baru diluncurkan akhir Februari 2016 lalu. Namun dengan potensi yang dimiliki oleh Ethereum, beberapa perusahaan besar telah mencoba untuk menggunakannya.


Tahun 2015 silam, IBM bekerja sama dengan Samsung untuk membuat sistem Internet of Things bernama ADEPT. Di dalamnya, IBM menerapkan konsep Smart Contract dari Ethereum.


Baca juga: Masa Depan Pembayaran Indonesia, Ada di Kartu Kredit atau Bitcoin?


Marley Gray, Direktur bidang Pengembangan dan Strategi Bisnis di Microsoft, juga mengatakan kalau dengan Ethereum kamu bisa memecahkan banyak masalah di dunia industri dengan baik. “Ini adalah solusi paling elegan yang kami lihat sampai sekarang,” ujar Gray.


Ditanggapi dengan apatis oleh pengguna Bitcoin


Perkembangan Ethereum ditanggapi dingin oleh beberapa pihak yang sudah menggunakan Bitcoin. Chris DeRose, Community Director untuk Counterparty, sebuah pengembang platform yang memanfaatkan jaringan Bitcoin, bahkan mencurahkan unek-uneknya di Twitter.




Menurut Chris, sistem Smart Contract yang ditawarkan Ethereum tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini langsung mendapat balasan dari Mark Wilcox, salah satu investor di Ethereum, yang kemudian memicu perdebatan antara keduanya.



Sejauh ini, Ethereum memang belum mendapat banyak tantangan baik dalam hal keamanan maupun potensi penipuan yang dilakukan oleh pengguna mereka. Karena itu, mereka perlu membuktikan kalau mereka bisa menjadi sistem yang tak hanya bermanfaat, tetapi juga aman digunakan.



Dengan perkembangan Ethereum yang begitu pesat, tidak mustahil kalau di kemudian hari mereka juga akan dikenal secara luas seperti Bitcoin. Namun untuk bisa mencapai prestasi tersebut, mereka harus terlebih dahulu membuktikannya dengan membuat produk yang memecahkan masalah banyak orang.


(Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)


The post Ethereum Siap Menantang Bitcoin dalam Persaingan Menjadi Mata Uang Virtual Terbesar appeared first on Tech in Asia Indonesia.





sumber:

Barclays on the main takeaway from Yellen’s speech

Via eFX

Her comments stand somewhat in contrast to recent remarks by other FOMC members and are more clear in respect to downside risk factors and their possible effect on the outlook for activity and inflation. Hence, we see the chair’s comments today as an effort to exert control over the message and, in doing so, tilt expectations for policy rate hikes in a decidedly dovish direction.





sumber: